Bismillaah
Generasi seperti apa yang ingin aku desain?
Pemimpin?
Dia akan menjadi leader di usia berapa?
Tahun berapa?
Kondisi saat itu bagaimana?
Karakteristik zamannya bagaimana?
Setidaknya ada beberapa hal ya, Nak
1. Qur'ani. Mari jaga fitrahmu dengan Al-Qur'an, Nak. Jadikan Al-Qur'an menyatu dalam hati dan akhlakmu. Jadilah wajah Qur'an yang indah, Nak. Kenalilah Allah & Rasul-Nya serta agama ini, serta sosial, alam, bahasa, sejarah, geografi, astronomi, psikologi, fisika, biologi, kimia, dsb melalui Al-Qur'an ya, Nak. Sungguh Allah sudah menyampaikan pesan-Nya yang begitu jelas dan cerah cemerlang. Yakinlah, Nak. Hanya generasi Qur'ani yang akan memimpin jiwa-jiwa manusia yang gersang pada keimanan. Kesejahteraan spritual. Aamiin. Bismillah. Kau akan keliling dunia dengan Al-Qur'an, Nak. InsyaAllah. Melihat kebesaran-Nya. Ayat-ayat-Nya yang terbentang. Bahkan kelak tingkatan syurgamu, salah satunya bergantung pada seberapa dekat engkau dengannya, Nak. Allahummarhamna bil Qur'an...
2. Bahasa. Kuasailah beberapa bahasa ya, Nak. Untuk Nasional; jawa, sumatera, sulawesi, maluku, kalimantan, irian. Internasional; Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Asia, Yunani, Eropa, dan Bahasa spesifik lainnya. Karena dengan menguasai bahasa, kau bisa memahami informasi lintas negara, Nak. Bisa berkomunikasi, bersaudara, dan berbagi informasi lintas negara :) Bukankah membangun dunia ini tidak bisa sendiri? Kolaborasi lintas negara menjadi mutlak, sayang. Bismillaah.
3. Bidang profesional. Nah, ini silakan kembali pada dirimu, Nak. Bidang apa yang ingin kamu tekuni? Apapun itu, jadilah ahli di sana, Nak. Itu wajib. Apapun, silakan. Namun profesional & ahli di bidang yang kau pilih ya, Nak. Concern dengan isu tersebut. Bisa dijadikan rujukan yang berkualitas dan terpercaya karena kedalaman pengetahuan, keterampilan, ketajaman analisis, kekayaan pengalaman, serta karya yang sudah dilahirkan di bidang tsb. Lulus itu banyak, Nak. Namun yang memilih untuk terus belajar, mendalami, dan berbagi memanfaatkan ilmu tsb untuk membangun kehidupan masihlah sedikit, Nak. Mari jadilah satu diantara yang sedikit itu ya sayang. Itulah sarana juangmu, Nak. Jadilah bermanfaat. InsyaAllah, amal ilmiah itulah yang akan menjadi bekalmu di hadapan Allah. Setiap rasa syukur dan senyum orang yang kau temui dan rangkul-lah, yang akan menjadi sahabat dan saudaramu ketika menghadap Allah swt. Semoga. Bismillaah.
Jadi, Nak... Ibu belum tahu persis bagaimana kondisi zamanmu kelak. Namun Ibu berpesan hal tsb ya Nak.
Ohyaaaa, ada lagi.
1. Beladiri. Milikilah jiwa raga yang kuat ya, Nak
2. Kemampuan komunikasi & berbicara di depan umum. Sampaikanlah kebenaran walau satu ayat ya, Nak
3. Jaringan/relasi/teman/saudara yang banyak dan luas :)
4. Bisnis/usaha/dagang bos-nya Allah ya, Nak
Jumat, 08 Juni 2018
Ujian Keberuntungan
Bismillaah
Setidaknya ada dua bentuk ujian dalam hidup ini
1. Berupa nikmat
2. Berupa musibah
Dan ada beberapa masa dimana jatah ujianku adalah berupa kenikmatan, kesempatan, keberuntungan, freepass, dan lain sebagainya.
Aku masih terlalu fokus pada hasil.
Beberapa ujian kenikmatan yang sampai hari ini aku ngga habis pikir adalah
1. Kesempatan ikut lomba & astaghfirullah juara (ada yg emang usaha keras tapi ada yang faktor beruntung-entah jumlah & kesiapan peserta yang lain)
2. Kesempatan berorganisasi & amanah abot, strategis namun ngga mlaku apik
3. Kesempatan naik pesawat (nemenin eyang ke jakarta & ke negeri seberang)
4. Kesempatan studi lanjut di jurusan psikologi (minimal berobat jalam-nerapi diri sendiri)
5. Kesempatan ikut international camps di Thailand 2016 di bulan Ramadhan 1437 Hijriyah (5 hari)
6. Dan lain-lain
Kebanyakan ambisi duniawi minim misi kemanusiaan dan kemaslahatan ummat atau kemanfaatan di masyarakat
Coba lihat, semua self-oriented
Kesenangan dan kepuasan yang dinikmati sendiri. Belum melibatkan orang lain untuk juga bisa bahagia.
Pantas saja setelah itu hanya menyisakan kegelisahan. Karena masih egois dan individualis.
Aku belum bermimpi sebagai Muthi seorang anak bangsa Indonesia atau seorang Muslim. Aku masih menjadi diriku yang menganggap hal yang keren itu yang begitu. Padahal itu standar yang sempit, sedikit, sendiri, dan duniawi.
Bagaimana, Muthi?
Kini mau bermimpi sebagai anak bangsa Indonesia dan Muslim, tidak?
1. Memberdayakan 10% masyarakat Indonesia
2. Menjadi jalan hidayah 100.000 orang mualaf lintas agama
3. Menjadi psikolog Muslimah Hafidzah mendunia
4. Berkolaborasi dengan Yasmin Mogaheed, serta psikolog Muslimah internasional
5. Membumikan Al-Qur'an lewat jalur keilmuan psikologi konvensional dan Islami
6. Tahajud rutin
7. Hafal Al-Qur'an 30 juz+terjemah+tafsir+konteks psikologis
8. Dhuha rutin
9. Yayasan Penghafal Al-Qur'an
10. Melahirkan 1000 CEO Qur'ani mendunia akhirat
11. Ikut terlibat dalam penyusunan Undang-Undang Psikologis (Perlindungan HAM, pendidikan berbasis keluarga, konselor keluarga, penyediaan ruang peran psikolog, klinik psikologi berbasis kampung/desa, dsb)
12. Menjadi dosen dari 3 universitas dengan total 10.000 mahasiswa diajarkan
13. Pengisi seminar & talkshow tematik
14. Konselor Rumah Keluarga Indonesia
15. Peneliti dengan ratusan naskah publikasi & puluhan buku :")
16. Aktivis sosial media dalam rangka dakwah
17. Atlit karate : karateka :)
18. ZISWAF tiap tahun minimal 10juta
19. Mengelola sociopreneur dengan 10.000 relawan
20. Membuat biro psikologi Islami
21. Penasihat sekian lembaga
22. Anak, saudara, Ibu, dan istri yang sholihah
Aamiin yaa Rabb
Semoga Allah beri usia
Allah karuniakan hidayah
Kebersihan hati menerima petunjuk
Kesabaran dalam membekali diri
Kelurusan niat
Kekuatan tekad
Keteguhan
Keistiqomahan
Kemanfaatan
Kecintaan dan kasih sayang
Karena Allah & Rasul-Nya
Jiwa yang selalu ingin dekat dengan Allah
Selalu berlelah-lelah lillah
InsyaAllaah
Mari berjihad, bersungguh-sungguh mewujudkannya, Muthi'ah
Semoga Allah karuniakan partner dalam berjuang
AllahuAkbar
Setidaknya ada dua bentuk ujian dalam hidup ini
1. Berupa nikmat
2. Berupa musibah
Dan ada beberapa masa dimana jatah ujianku adalah berupa kenikmatan, kesempatan, keberuntungan, freepass, dan lain sebagainya.
Aku masih terlalu fokus pada hasil.
Beberapa ujian kenikmatan yang sampai hari ini aku ngga habis pikir adalah
1. Kesempatan ikut lomba & astaghfirullah juara (ada yg emang usaha keras tapi ada yang faktor beruntung-entah jumlah & kesiapan peserta yang lain)
2. Kesempatan berorganisasi & amanah abot, strategis namun ngga mlaku apik
3. Kesempatan naik pesawat (nemenin eyang ke jakarta & ke negeri seberang)
4. Kesempatan studi lanjut di jurusan psikologi (minimal berobat jalam-nerapi diri sendiri)
5. Kesempatan ikut international camps di Thailand 2016 di bulan Ramadhan 1437 Hijriyah (5 hari)
6. Dan lain-lain
Kebanyakan ambisi duniawi minim misi kemanusiaan dan kemaslahatan ummat atau kemanfaatan di masyarakat
Coba lihat, semua self-oriented
Kesenangan dan kepuasan yang dinikmati sendiri. Belum melibatkan orang lain untuk juga bisa bahagia.
Pantas saja setelah itu hanya menyisakan kegelisahan. Karena masih egois dan individualis.
Aku belum bermimpi sebagai Muthi seorang anak bangsa Indonesia atau seorang Muslim. Aku masih menjadi diriku yang menganggap hal yang keren itu yang begitu. Padahal itu standar yang sempit, sedikit, sendiri, dan duniawi.
Bagaimana, Muthi?
Kini mau bermimpi sebagai anak bangsa Indonesia dan Muslim, tidak?
1. Memberdayakan 10% masyarakat Indonesia
2. Menjadi jalan hidayah 100.000 orang mualaf lintas agama
3. Menjadi psikolog Muslimah Hafidzah mendunia
4. Berkolaborasi dengan Yasmin Mogaheed, serta psikolog Muslimah internasional
5. Membumikan Al-Qur'an lewat jalur keilmuan psikologi konvensional dan Islami
6. Tahajud rutin
7. Hafal Al-Qur'an 30 juz+terjemah+tafsir+konteks psikologis
8. Dhuha rutin
9. Yayasan Penghafal Al-Qur'an
10. Melahirkan 1000 CEO Qur'ani mendunia akhirat
11. Ikut terlibat dalam penyusunan Undang-Undang Psikologis (Perlindungan HAM, pendidikan berbasis keluarga, konselor keluarga, penyediaan ruang peran psikolog, klinik psikologi berbasis kampung/desa, dsb)
12. Menjadi dosen dari 3 universitas dengan total 10.000 mahasiswa diajarkan
13. Pengisi seminar & talkshow tematik
14. Konselor Rumah Keluarga Indonesia
15. Peneliti dengan ratusan naskah publikasi & puluhan buku :")
16. Aktivis sosial media dalam rangka dakwah
17. Atlit karate : karateka :)
18. ZISWAF tiap tahun minimal 10juta
19. Mengelola sociopreneur dengan 10.000 relawan
20. Membuat biro psikologi Islami
21. Penasihat sekian lembaga
22. Anak, saudara, Ibu, dan istri yang sholihah
Aamiin yaa Rabb
Semoga Allah beri usia
Allah karuniakan hidayah
Kebersihan hati menerima petunjuk
Kesabaran dalam membekali diri
Kelurusan niat
Kekuatan tekad
Keteguhan
Keistiqomahan
Kemanfaatan
Kecintaan dan kasih sayang
Karena Allah & Rasul-Nya
Jiwa yang selalu ingin dekat dengan Allah
Selalu berlelah-lelah lillah
InsyaAllaah
Mari berjihad, bersungguh-sungguh mewujudkannya, Muthi'ah
Semoga Allah karuniakan partner dalam berjuang
AllahuAkbar
Remidi
Bismillaah
Sejak awal kamu menulis di sini, 2008
Sampai hari , 2018
Adakah waktu memberimu pelajaran, Muth?
Atau, apakah kamu belajar sesuatu, Muth?
Hal yang menyedihkan adalah ketika menyadari bahwa sepanjang rentang waktu itu
Bisa jadi ada beberapa hal yang kualami
Namun aku tidak atau belum benar-benar belajar
Aku belum lebih baik dari dulu
Ah, ini kemirisan
Berarti aku merugi dan celaka
Bangga? Jelas tidak :(
Kayak gitu kok merasa keren
Rjlz (rajelas)
Tentu itu bukan suatu pencapaian
Karena itu juga minim usaha :(
Aku masih remidi dengan banyak mata pelajaran kehidupan
Tentang iman kepada takdir
Baik maupun buruk
Memahami dan meyakini sepenuhnya
Bahwa ini atas kehendak Allah
Serta ikhlas atas takdir-Nya
Terkabulkannya doa, hasil, adalah ketentuan-Nya
Sedang jatahku adalah berusaha sebaik-baiknya sepanjang aku bisa
Aku curang, hanya berdoa, berkata, namun tidak benar-benar berusaha
Mbingungi. Kowe le kepingin, tenanan ra sik? Nggo ngopo kepinginanmu?
Proposal yang bener-bener dijalanin
Jelas mulai dari latar belakang sampai info pelaksana
Kadang masih belum sepenuhnya ikhlas
Kenapa sih takdirnya begini?
Ada rasa yang "toxic" akan ketentuan-Nya
Kenapa Allah memberi takdir begitu?
Aku tidak memainkan peran atau bagianku dengan baik, nih
Maunya enaknya doang, kaga mau susahnya. Huft. Curang.
Apa maksud Allah memberiku takdir begini? Merasa rugi? Merasa Allah engga adil? Wah ada yang kudu dibenahi ini. Imanku belum benar. Ilmu masih fakir, cethek, permukaan ajah.
Aku belum dekat dengan Allah
Belum benar mengenal Allah
Sehingga belum benar berinteraksi dengan-Nya
Pantas saja belum se-frekuensi dengan hamba-Nya yang sholih/ah :(
Iman kepada takdir baik dan buruk
Kenapa dulu aku ditawari? Mengiyakan? Lalu melanggar? Kenapa aku begitu?
Dan aku terjebak rasa bersalah tanpa kesungguhan menebusnya :( ah, malah menambah.
Aku belum siap ngurus ummat. Ha wong imanku we belum beres begini. Aqidahku belum lulus eh lurus. Belum teruji. Dan itu berdampak pada ibadah. Hubungan dengan Allah. Jelas pengaruh pada akhlak dan kemanfaatan. Daya juang. Wawasan. Kesungguhan ngelola waktu & urusan, pengorbanan. Pokoknya semuanya :"(
Aku remidi.
Ya, harus mengulang banyak mata pelajaran kehidupan.
Banyak yang belum aku pahami.
Aku masih terhijab dengan pemahaman akan banyak hal.
Aku masih belum lulus ujian.
Masih harus mengulang, agar belajar lagi, diuji, belajar terus.
Mengasah kecerdasan pikir dan hati.
Puncaknya kecerdasan jiwa & ruhiyah, serta akhlak.
Bagaimana kualitas dan keputusan diri membawa kemanfaatan, kebaikan, dan kemaslahatan bagi sesama makhluk-Nya.
Allah...
Aku rela jika harus remidi berkali-kali
Asal itu mendekatkanku pada-Mu ya Allah
Agar aku makin mengenal-Mu
Lalu puncaknya berjuang untuk-Mu, di jalan-Mu, segenap jiwa & ragaku :")
Aamiin yaa Allah.
Jangan cuma aamiin, Muth.
Tunjukkan dengan usaha.
Karena Allah juga menilai amal.
Amal lahir & batin.
Beramallah. Kerjakan tugas. Belajarlah. Beramallah. Belajarlah. Ilmiah. Amal ilmiah. Ilmu amaliyah. Astaghfirullah. Bismillaah.
Tiada daya upaya kecuali atas izin-Nya
Laa haula wa laa quwwata illa billah
Tiada kemuliaan kecuali dengan kesungguhan
Laa izzata illa bil jihaad
Kita-kah bagian dari pengusung kemenangan kalimat Allah ini?
Kita-kah solusi? Atau bagian dari masalah? Na'udzubillahi min dzalik
Berbekallah. Berbekallah. Berbekallah. Perjalanan menuju Allah begitu panjang.
Sejak awal kamu menulis di sini, 2008
Sampai hari , 2018
Adakah waktu memberimu pelajaran, Muth?
Atau, apakah kamu belajar sesuatu, Muth?
Hal yang menyedihkan adalah ketika menyadari bahwa sepanjang rentang waktu itu
Bisa jadi ada beberapa hal yang kualami
Namun aku tidak atau belum benar-benar belajar
Aku belum lebih baik dari dulu
Ah, ini kemirisan
Berarti aku merugi dan celaka
Bangga? Jelas tidak :(
Kayak gitu kok merasa keren
Rjlz (rajelas)
Tentu itu bukan suatu pencapaian
Karena itu juga minim usaha :(
Aku masih remidi dengan banyak mata pelajaran kehidupan
Tentang iman kepada takdir
Baik maupun buruk
Memahami dan meyakini sepenuhnya
Bahwa ini atas kehendak Allah
Serta ikhlas atas takdir-Nya
Terkabulkannya doa, hasil, adalah ketentuan-Nya
Sedang jatahku adalah berusaha sebaik-baiknya sepanjang aku bisa
Aku curang, hanya berdoa, berkata, namun tidak benar-benar berusaha
Mbingungi. Kowe le kepingin, tenanan ra sik? Nggo ngopo kepinginanmu?
Proposal yang bener-bener dijalanin
Jelas mulai dari latar belakang sampai info pelaksana
Kadang masih belum sepenuhnya ikhlas
Kenapa sih takdirnya begini?
Ada rasa yang "toxic" akan ketentuan-Nya
Kenapa Allah memberi takdir begitu?
Aku tidak memainkan peran atau bagianku dengan baik, nih
Maunya enaknya doang, kaga mau susahnya. Huft. Curang.
Apa maksud Allah memberiku takdir begini? Merasa rugi? Merasa Allah engga adil? Wah ada yang kudu dibenahi ini. Imanku belum benar. Ilmu masih fakir, cethek, permukaan ajah.
Aku belum dekat dengan Allah
Belum benar mengenal Allah
Sehingga belum benar berinteraksi dengan-Nya
Pantas saja belum se-frekuensi dengan hamba-Nya yang sholih/ah :(
Iman kepada takdir baik dan buruk
Kenapa dulu aku ditawari? Mengiyakan? Lalu melanggar? Kenapa aku begitu?
Dan aku terjebak rasa bersalah tanpa kesungguhan menebusnya :( ah, malah menambah.
Aku belum siap ngurus ummat. Ha wong imanku we belum beres begini. Aqidahku belum lulus eh lurus. Belum teruji. Dan itu berdampak pada ibadah. Hubungan dengan Allah. Jelas pengaruh pada akhlak dan kemanfaatan. Daya juang. Wawasan. Kesungguhan ngelola waktu & urusan, pengorbanan. Pokoknya semuanya :"(
Aku remidi.
Ya, harus mengulang banyak mata pelajaran kehidupan.
Banyak yang belum aku pahami.
Aku masih terhijab dengan pemahaman akan banyak hal.
Aku masih belum lulus ujian.
Masih harus mengulang, agar belajar lagi, diuji, belajar terus.
Mengasah kecerdasan pikir dan hati.
Puncaknya kecerdasan jiwa & ruhiyah, serta akhlak.
Bagaimana kualitas dan keputusan diri membawa kemanfaatan, kebaikan, dan kemaslahatan bagi sesama makhluk-Nya.
Allah...
Aku rela jika harus remidi berkali-kali
Asal itu mendekatkanku pada-Mu ya Allah
Agar aku makin mengenal-Mu
Lalu puncaknya berjuang untuk-Mu, di jalan-Mu, segenap jiwa & ragaku :")
Aamiin yaa Allah.
Jangan cuma aamiin, Muth.
Tunjukkan dengan usaha.
Karena Allah juga menilai amal.
Amal lahir & batin.
Beramallah. Kerjakan tugas. Belajarlah. Beramallah. Belajarlah. Ilmiah. Amal ilmiah. Ilmu amaliyah. Astaghfirullah. Bismillaah.
Tiada daya upaya kecuali atas izin-Nya
Laa haula wa laa quwwata illa billah
Tiada kemuliaan kecuali dengan kesungguhan
Laa izzata illa bil jihaad
Kita-kah bagian dari pengusung kemenangan kalimat Allah ini?
Kita-kah solusi? Atau bagian dari masalah? Na'udzubillahi min dzalik
Berbekallah. Berbekallah. Berbekallah. Perjalanan menuju Allah begitu panjang.
Langganan:
Postingan (Atom)